Senin, 27 Agustus 2012

Golden Silence

Diam, bersabar, menunggu...kegiatan yang terkadang kerap dilupakan, dijauhi, bahkan tak sedikit yang memusuhi. Tak banyak orang yang merasakan atau menyerap manfaatnya. Begitu juga diri sendiri ini yang sepertinya baru-baru ini saja menyadari bahwa diam, bersabar, menunggu tidak kalah pentingnya dengan bergerak dan berbuat sesuatu. Diam itu bukan berarti tidak berbuat sesuatu. Diam, bersabar, menunggu tidak boleh disia-siakan dengan "diam" kosong. Disitu kita mengevaluasi, disitu kita menahan diri, disitu kita memperhitungkan, dan setelahnya...mendapatkan, memutuskan, dan melakukan aksi dengan hasil yang jauh lebih cemerlang dari sekedar beraksi mengandalkan intuisi dengan hasil setengah kreasi setengah disesali. Tidak ada yang salah juga dengan bereaksi. Disini saya hanya mengatakan bahwa orang kerap melupakan manfaat "diam" atau "menanti"

Lakukanlah sesuatu, bergeraklah tapi beri dirimu diam sesaat, toleh sedikit ke belakang. Jangan sesali yang terjadi, namun kagumi yang sudah kau capai...dan yakini bahwa kau sudah melakukan sesuatu yang berguna bagi dirimu dan orang disekelilingmu. Lalu kembali tatap ke depan dan katakan pada dirimu...aku akan melakukannya lebih baik lagi,

Minggu, 20 Mei 2012

K Pop Deserve a Credit

Eiiits...yang anti K Pop jangan langsung beringas dulu baca tittle blog gue yang satu ini. Gue juga dulu salah seorang yang bisa dibilang agak anti K Pop. Permasalahannya apa? Apa lagi kalo karena alasan bukan genre "LAKI"!! hehehe. Tapi sesuatu terjadi dan tulisan ini bukan untuk yang sudah khatam dengan sejarah K Pop tapi lebih ke yang awam.

Mungkin beberapa penggemar K Pop dari kalian sudah tahu kalau Blitzmegaplex memutarkan film yang hanya diputar khusus di cinema itu yang berjudul I AM. Film yang sedikit fenomenal buat gue karena harga tiketnya yang Rp.130.000,- dan hanya diputar exclusive 3 hari saja. Yang membuatnya jadi sedikit fenomenal adalah...SOLD OUT aja gitu. Gue cukup shock!! Sejujurnya, gue yang bukan penikmat K Pop sama sekali nggak tau sampai sebegitunya reaksi para penggemar K Pop SM Town ini (begitulah mereka menyebutnya). Depan mata gue ada yang beli banyak sampai menghabiskan Rp.720.000,- dan kalau melihat timeline akun Blitzmegaplex di Twitter, isinya hanya dipenuhi sama orang-orang yang sangat menyesal tidak bisa nonton dan minta jadwal show diperbanyak. AMAZING!! Karena hal itulah gue terdorong untuk melihat sendiri dengan mata kepala gue seperti apa filmnya.

Filmnya sendiri nggak terbilang istimewa. Hanya dokumenter seperti biasa yang sudah-sudah. Kita tahu ada beberapa film serupa salah satunya yaitu "This Is It". Filmnya Michael Jackson. Film pertama yang mempelopori jenis film reality dokumenter musik concert (istilah dari gue sendiri). Tapi film I AM ini menceritakan bagaimana perjalanan karir para artist dari SM Town mulai dari perekrutan sampai sekarang secara di belakang layar. And I'll tell you one thing...they do deserve a credit!! Mind set gue berubah drastis dari yang tadinya melihat mereka cuma sekedar artist "enak dilihat" menjadi artist gue cukup gue hormati.

Dalam film ini diceritakan bagaimana SM Town merekrut para artist ini dari sejak kurang lebih 16 tahun. Dan apa yang bikin gue jadi respect sama mereka adalah selama kurang lebih 6 tahun, mereka harus di drill habis-habisan. Bisa dibilang masa remaja mereka habis sudah diganti menjadi sekolah, latihan, sekolah, latihan, sekolah, dan latihan. Nari, nyanyi, nari, nyanyi, nari, nyanyi. Belum lagi hal-hal lainnya yang gue masih belum tau seperti olah raga, atau pantangan etc. Bayangkan...mereka direkrut dari remaja dan baru bisa merasakan menjadi artist selama kurang lebih 6 tahun? Man..that's hard!! Kita sendiripun mungkin belum tentu sanggup. Mungkin juga ada yang give up tapi kita nggak tau. Dan selama 6 tahun gemblengan itu berlalu, beban mereka tidak berkurang. Gue yakin sampai detik ini pantangan masih berlanjut dan bagaimana setelah 6 tahun gemblengan ternyata mereka kurang sukses saat menjadi artist?!? Pertaruhan banget nggak seh?

Setelah menyaksikan dokumentasi tersebut, kemudian result yang mereka hasilkan, plus di dalam film itu juga didokumentasikan bagaimana mereka masing-masing begitu terharunya dan nangis karena perjuangan yang keras selama 6 tahun membuat gue bisa sedikit merasakan bagaimana beratnya perjalanan karir mereka. Dan itulah kenapa gue bilang mereka deserve a credit dari gue. Kelas mereka sudah selayaknya level international. Sudah sangat pantas untuk mereka bisa perform di Madison Square Garden (dan sold out pula). Gue sangat percaya dengan perjuangan keras dan sangat menghormati itu. Dibandingkan dengan apa yang sudah dilakukan artis di negara kita sepertinya belum apa-apa. Mungkin ada beberapa tapi lebih banyak yang karbitan. Istilahnya lihat di jalan, pungut, grooming, launching, kelar. Yang penting modal tampang, koneksi, atau uang. Dan gue rasa bahkan di America pun tidak semuanya menjalani latihan keras seperti itu.

Anyway...show-nya berjalan dengan lancar. Rata-rata dari pengunjung yang membeli tiket adalah ABG walaupun terlihat juga beberapa yang sudah dewasa. Ada beberapa yang nakal berusaha mencoba merekam show tersebut dengan ponsel tapi akhirnya bisa dihentikan. Kenakalan yang pastinya bukan didorong mencari keuntungan uang tapi lebih ke eksistensi hahaha. Yang serunya lagi..reaksi penonton sepanjang film mengalahkan reaksi nonton film Thriller. Teriakan kerap terdengar beberapa kali dan bahkan sering dari para fans gadis remaja setiap melihat artist pria idola mereka muncul di layar bioskop. Tontonan yang seru.

Dengan ini, gue tidak bilang gue berubah menjadi fans K Pop, hanya saja gue sudah tidak antipati dengan sebagian dari mereka. Kalaupun gue harus jadi fans...gue mau jadi fansnya Girls Generation!! Uhuuuuuy!!! Oh Yoona, Tiffany, dan Seohyun :P










Image Source: http://chicpinay.com/cgi-sys/suspendedpage.cgi
http://www.lovelytoday.com/topkpop/2012/04/21/8118/behind-the-scene-i-am-smtown-live-world-tour-in-madison-square-garden/pics/32977
http://www.radiopaniekzaaierwebradio.com/video/120323-SM-TOWN---I-AM-2nd-teaser_0:01:01__AynalYambko.html
http://koreanupdates.com/2012/04/15/smtown-snsds-i-am-posters-revealed/
http://kpopsanctuary.com/2012/04/22/sm-towns-i-am-movie/sm-town-i-am-snsd-yoona/
http://snsdpics.com/snsd-members-i-am-posters/

Dark Shadows 2012



Warning!! Spoiler alert!!

Ini adalah salah satu film sangat sangat gue nanti-nantikan karena ada 3 orang yang terlibat dalam film ini yang gue cukup ngefans. Johnny Depp, Chloe Grace Moretz, dan Tim Burton. Tentu saja gue mengharapkan kolaborasi yang "wicked" dari mereka bertiga.

Akhirnya film itu muncul juga di tanah air dan gue sempatkan diri untuk menonton di Blitzmegaplex Grand Indonesia. Film itu dibuka dengan opening act yang sudah bagus. Nggak ada yang salah. At least sampai mulai masuk ke act 2. Begitu sudah mulai masuk ke inti konflik cerita...semuanya mulai kempis. Bahkan cerita mulai kempis sejak kedatangan Barnabas Collins (Johnny Depp) kembali ke keluarga Collins. Lagi-lagi salah di script. Sudut pandang yang tadinya buat gue menarik yaitu diambil Victoria Winters (Bella Heathcote) mulai berubah menjadi milik Barnabas Collins. Salah? Tidak. Karena memang premisenya milik Barnabas Collins yang "wants" nya yaitu kembali menjadi bagian keluarga Collins dan menjalani kembali hidupnya seperti dulu tapi ternyata penyihir yang menyihir Barnabas menjadi Vampire, Angelique Bouchard (Eva Green) masih hidup dan tetap ingin memiliki atau merusak Barnabas. Yang salah adalah sudut pandang dan alur cerita menjadi HANYA milik Barnabas Collins. Padahal masing-masing anggota keluarga Collins serta Victoria Wintersnya sendiri menurut gue punya cerita dan karakter yang menarik untuk ikut andil dalam sepanjang alur cerita. Anggota keluarga dengan karakter yang unik dan kompleks hanya menjadi penghias belaka dan nyaris tidak ada arti apa-apa. Bahkan kejutan di akhir film yang disiapkan oleh penulis script bahwa siapa sebenarnya Carolyn Stoddard (Chloe Moretz) tidak mengandung arti apa-apa. Akhirnya keseluruhan cerita menjadi standard yang harusnya berpotensi menjadi kompleks. Dan puncak kekecewaan gue pada film itu ada pada endingnya. Gue amat sangat tidak mengharapkan adanya action pertarungan antara Vampire dan Witch. Gue mengharapkan penyelesaian konflik dengan sedikit action dan penuh dengan intrik-intrik "gelap" dan drama. Sepertinya Film ini juga gagal menjadi lebih baik dari film sebelumnya yang juga sudah pernah release. (Gue belum pernah nonton tapi hanya berdasarkan referensi website).

Tapi di film ini gue dihadapkan pada suatu hal yang menarik. Yaitu dimana saat cerita film yang ada bisa dibilang telah "gagal" tapi actor dan actress yang berperan di film itu sanggup menghidupkan dan mensupport film itu menjadi paling tidak masih enak untuk ditonton. Actor dan Actress yang memang buat gue sudah nyaris tidak perlu dipertanyakan kehebatannya seperti Johnny Depp, Chloe G. Moretz, Eva Green, Helena Bonham Carter, Jackie Earle Haley, Michelle Pfeiffer, dan bahkan Christopher Lee muncul walaupun hanya sesaat. Sungguh actor-actress yang luar biasa. Mereka adalah hal mutlak satu-satunya yang menarik di film itu.

Mau nonton atau tidak setelah baca ini yaaa itu kembali terserah kalian. Yang pasti walaupun ceritanya cukup terbilang standard, ada 1 hal yang mampu membuat gue bersedia lihat film itu lagi berulang-ulang yaitu PEMERANNYA....Chloe Moretz (salah satu act tersensual yg pernah diperankan Chloe), dan Eva Green yang...Mmm...damn hot disitu!! Coba liat sendiri dibawah :)













Image Source: http://en.wikipedia.org/wiki/Dark_Shadows_(film)
http://blogs.indiewire.com/theplaylist/dark-shadows-soundtrack-features-iggy-pop-alice-cooper-the-carpenters-t-rex-more-20120427
http://www.mtv.com/photos/five-key-scenes-from-the-dark-shadows-trailer/1681190/6988104/photo.jhtml
http://www.ropeofsilicon.com/dark-shadows-movie-pictures/
http://articles.glendalenewspress.com/2012-05-11/entertainment/tn-gnp-0513-film-review-tim-burtons-dark-shadows-more-comedic-than-dark_1_dark-shadows-burton-and-depp-jonathan-frid
http://movies.about.com/od/darkshadows/ig/Photos/Johnny-Depp-Eva-Green.htm
http://showbiznest.blogspot.com/2012/05/chloe-grace-moretz-eccentric-teen-in.html

Sabtu, 19 Mei 2012

Underestimating The Avengers the movie

Well first of all I would like to apologize to Joss Whedon for I had underestimate The Avengers. Harus gue akui, awalnya gue menaruh ekspektasi yang cukup rendah untuk film ini. Alasannya? Siapa yang tidak trauma dengan film-film super heroes blockbuster yang kita harap-harapkan akan keren ternyata berputar menjadi mengecewakan. Tidak perlu disebutkan film-film apa saja tapi pasti teman-teman juga tahu persis yang gue maksud seperti apa rasanya. Dan biasanya dengan menaruh ekspektasi yang cukup rendah menyelamatkan gue dari kekecewaan. Memang ada film super heroes yang luar biasa seperti Batman Begins, The Dark Knights etc tapi ada juga (yang menurut pendapat pribadi gue cukup mengecewakan) seperti Captain America, Green Lantern etc. Apa lagi The Avengers akan sangat sulit dibuat mengingat begitu banyak karakter kuat di dalamnya. Untuk menulis script dengan karakter kuat sebegitu banyak membutuhkan kreatifitas, skills, dan jam terbang yang cukup tinggi. Dan ternyata Joss Whedon menjawab semua itu selaku scriptwriter dan Director film The Avengers. Jauh dari yang gue bayangkan...film ini sangat...sangat di atas ekspektasi gue. SANGAT!!

Dari sudut pandang gue, premisenya cukup sederhana yaitu bagaimana sekelompok orang-orang dengan kekuatan luar biasa ini disatukan untuk menyelamatkan dunia dari teror Loki akan tetapi ketidak cocokan dan ego satu sama lain merusak semua itu. Seperti yang gue bilang...banyak karakter yang dominan. Dan itu dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Joss Whedon.

Secara keseluruhan memang cerita ini lebih banyak diambil dari sudut pandang Tony Stark (Robert Downey Jr.). Sepertinya Joss Whedon memilih Iron Man karena memang banyak yang setuju bahwa karakter Tony Stark paling menarik untuk dinikmati dengan lagaknya yang tengil dan kocak akan tetapi karakter yang lainpun tidak kekurangan peran. Semua menjadi karakter utama yang membawakan alur cerita masing-masing dengan baik. Tidak menutup kemungkinan bahwa Joss Whedon menciptakan premise sendiri bagi masing-masing karakter.

Mutlak, the best thing yang membuat film ini menarik adalah Scriptnya yang ditulis dengan amat sangat baik, detail, dan karakterisasi yang luar biasa. Bisa kita saksikan selama film berjalan, latar belakang beberapa karakter yang tidak berhubungan langsung dengan inti cerita muncul dan mempengaruhi masing-masing karakter, bukti Joss Whedon cukup menguasai karakter yang ditulisnya hingga bisa menghasilkan dialog-dialog khas masing-masing karakter yang sangat pintar. Guyonan-guyonan yang ada juga berhasil menjadi bumbu yang SANGAT pas yang "menyedapkan" keseluruhan cerita. Hal yang tidak mudah. Karena kita tahu banyak penulis yang gagal dalam mencoba memasukkan "bumbu" guyonan dialur cerita yang temanya "action".

Tidak ada satupun karakter yang ditulis Joss yang mungkin, by any chance, bisa mengecewakan penggemar fanatik yang telah dimiliki masing-masing super heroes. Tantangan banget nggak tuh nulis film kayak begitu? Salah-salah bisa dimaki penggemar Captain America yang memang secara kemampuan tergolong "biasa saja" dibanding yang lainnya. Tapi semuanya tertulis dengan EQUAL!! Favorit gue pribadi di film itu adalah Hulk!! hahaha...Mark Ruffalo cukup baik memerankan Bruce Banner. Pilihan casting yang tidak salah.

Bagi yang sudah menonton, kita juga bisa melihat dan membayangkan bagaimana Joss Whedon bisa menulis dengan visualisasi gambar di benaknya dengan amat sangat mengagumkan terutama di act 3 saat peperangan akhir. Peperangan berpindah dari satu gambar ke gambar lainnya bergerak mengalir dengan sempurna. Gue sendiri secara pribadi sangat berharap bisa melihat contoh script yang ditulisnya, yang pastinya sudah gue bayangkan, akan sungguh amat kompleks.

Lalu kekurangan dari film ini apa? Nyaris tidak ada kecuali...efek 3D yang menurut gue kurang menghidupkan dan menyempurnakan film tersebut. Tapi..overall The Avengers adalah salah satu film yang WAJIB ditonton di tahun 2012 ini...dan gue...sudah menontonnya 2x. 3D and Regular. Nice work Joss :)

PS: Kali ini gue nggak akan menulis mengenai isi ceritanya karena gue yakin sebagian besar pasti udah pada nonton. Dan yang belom nonton...nonton dan liat sendiri seperti apa filmnya karena disini gue jauh lebih tertarik dengan apa yang ada di belakang layar film itu :)

Image source: http://www.coverdude.com/soundtrack-covers/36960-the-avengers-2012.html
http://www.filmfortress.com/the_avengers_review/
http://www.inspired-ground.com/tag/cobie-smulders/
http://www.mightyinkcomics.com/archives/4529/the-hulk-in-the-avengers-2012

Jumat, 13 April 2012

Battleship

Bisa dibilang ini adalah film Blockbuster pertama saya di tahun 2012. Film yang disutradarai oleh Peter Berg dan ditulis oleh Erich Hoeber & Jon Hoeber ini diambil dari sebuah game yang berjudul sama yaitu Battelship direlease oleh Hasbro. Game-nya sendiri cukup seru dimainkan.

Tidak seperti gamenya yang bertema perang antara Kapal perang melawan Kapal perang, film ini tentang kapal perang melawan..Hmm...memang kapal perang juga hanya saja kapal perang milik Alien. Amerika yang menemukan sebuah planet yang menyerupai bumi mencoba mengirimkan signal komunikasi ke planet tersebut untuk meneliti serta mengetahui lebih dalam mengenai planet tersebut yang akhirnya berlanjut pada inti film tersebut yaitu, Alien yang berada di planet tersebut merespon dan menyerang bumi.

Film ini diawali dengan pengenalan karakter yang menurut saya sangat baik. Penonton akan melihat bagaimana karakter Alex Hopper (Taylor Kitsch) yang liar, temperament, tak terkontrol dan cenderung berantakan tetap konsisten disepanjang film hingga perlahan-lahan karakternya berubah menjadi seorang yang dapat diandalkan dan bertanggung jawab melalui perang yang dialaminya itu. Dan film seperti ini yang sangat memperhatikan karakterisasi memberikan penilaian yang baik bagi saya pribadi terhadap penulis skripnya. Keputusan-keputusan yang diambil tidak lari dari karakternya. Kemudian sepanjang film kita akan diajak melihat kecanggihan CG dan detail yang sangat luar biasa.
Bagaimana dengan jalan ceritanya? Seperti yang saya bilang, diawali dengan sangat baik tetapi diakhiri dengan relatif lemah. Penyelesaiannya kurang baik dan peperangannya kurang menggigit. Saya teringat film blockbuster Sci-fi lain yang bertema mirip yaitu Independence Day atau agak berbeda sedikit yaitu Star Trek. Keduanya Blockbuster yang bagi saya sangat baik dari segi action maupun cerita. Sama-sama memiliki karakter protagonist yang oke. Yang membedakan dengan Battleship adalah alur cerita kedua film lama itu lebih menarik dan kuat terutama dibagian sequence resolusi akhir. Ketegangan yang diberikan oleh Battleship juga kurang terasa naik turunnya. Kita tidak banyak dikejutkan oleh aksi-aksi berbahaya serta rasa putus asa atau kegagalan. Tingkat konfliknya bisa terbilang rendah dan resolusinya cenderung biasa-biasa saja.

Ciri khas dari Blockbuster secara awam memang biasanya diidentifikasikan sebagai film "hura-hura", tidak "dalam", dan sekedar seru. Tapi somehow, bagi saya kurang setuju hal itu karena saya adalah tipe penonton film yang mementingkan keterlibatan segi emosional dari sebuah film dan Battleship kurang menyentuh di hal itu. 

Hal kedua yang kurang saya sukai juga adalah keputusan penulis untuk memasukkan karakter "clown" pada film itu yang kurang tepat. Terasa bagaikan makanan yang sudah enak kemudian diberi bumbu yang tidak perlu. Karakter Alex Hoppernya sendiri sudah cukup memberikan bumbu konyol yang pas dan tidak perlu lagi ditambah karakter lainnya.

Overall film itu standardly entertaining. 1 bintang dari saya dari rating 5 bintang. Bagi tipe penonton yang memang doyan film "gedebak gedebuk", film itu akan sangat menghibur. Awal yang cukup baik. Dan bersama dengan film Battleship ini....saya ucapkan SELAMAT DATANG BLOCKBUSTER 2012 :)






Kamis, 05 April 2012

The Hunger Games

The Hunger Games...cerita yang menarik. Sejujurnya gue belum pernah denger tentang The Hunger Games sampai akhirnya kemarin gue menonton filmnya lalu mulai menelusuri latar belakangnya. Film ini diambil dari novel Trilogy karya Suzanne Collins asal America. Karyanya cukup fenomenal bersanding dengan Twilight (walau gue gak suka dengan karya yang satu ini). Dan blog kali ini, seperti biasa, gue hanya akan sedikit bercerita, berkomentar dan sok tahu dari sisi filmnya, karena memang gue pecinta film :).

Saat gue menulis blog yang kali ini gue mengakui kalau gue memiliki kelemahan besar yaitu, gue belum membaca bukunya. Memang dunia film dengan dunia penulisan buku adalah media yang 180 derajat berbeda satu sama lain dan tidak bisa disamakan bahkan diperbandingkan walaupun diambil dari cerita yang sama tapi tentunya akan banyak informasi-informasi lagi yang bisa digali mengenai ceritanya kalau gue sudah membaca bukunya.

Film ini bercerita tentang seorang gadis muda berusia kurang lebih 16 thn yang hidup di suatu waktu di masa depan saat negara-negara di dunia sudah hancur dan berubah akibat perang, harus bertahan hidup dalam suatu permainan survival reality show melawan 23 peserta lainnya dari 12 district yang ada dan pemenangnya hanya boleh 1 orang. Setidaknya begitulah premis yang bisa gue terjemahkan dari film itu.


Film ini menuai pro dan kontra yang cukup banyak antara yang suka dengan yang tidak. Mungkin ekstrim terbagi 50:50 dari skala penonton Jakarta (sekali lagi ini hanya asumsi pribadi belaka bukan data empiris). dari 6 orang yang menonton bareng gue kemarin hanya 1 yang suka film ini...yaitu gue hehehe. Yup...gue suka film ini. Suka banget juga nggak tapi gue cukup menikmatinya. Beberapa yang tidak suka dikarenakan false expectation. Mereka mengharapkan action yang menegangkan tetapi yang mereka dapatkan lebih banyak dramanya. Menurut gue hal inipun disebabkan karena ketidaktahuan penonton akan franchise film ini yang sebenarnya terbagi dari 3 Novel dan babak pertama ini bisa dibilang seperti babak perkenalan.

Apa yang membuat gue suka? Gue suka idenya, konsepnya, jalan ceritanya, drama dan emosinya. Itu yang memang gue harapkan dari film action jaman sekarang. Bukan sekedar gebak gebuk, tusuk sana bacok sini kayak film Clash of Titans. Emosi yang dibawakan oleh Jennifer Lawrence cukup memuaskan.

Lalu apa yang gue nggak suka? Yang gue nggak suka adalah Josh Huctcherson pemeran Peeta Melark. Mungkin ini karena subyektif gue saja yang memang kurang suka pretty boy, tapi peran yang dimainkan disitu juga terlalu datar, tanpa emosi, tidak dalam dari yang kalau bisa gue bayangkan, harusnya termasuk salah satu karakter yang emosinya complicated. Tidak terpancarkan rasa pesimis dan takut kalah. Tidak seperti Jennifer lawrence yang sisi keras dan tough-nya cukup baik dibawakan walau gemetaran & takut dalam dirinya sangat hebat.


Hal kedua yang gue kurang suka adalah scriptnya tidak menggali lebih dalam drama yang terjadi selama game survival itu berjalan. Boleh dibilang actionnya timpang sekali. Ketegangan yang dibawakan tidak klimaks sehingga kesedihan yang harusnya dirasakan penonton pun tidak terlalu dalam. Disini kekurangan informasi dari "belum membaca bukunya" terasa oleh gue. Apakah pertarungan yang di tulis dalam bukunya memang tidak seseru itu atau sebaliknya tapi seharusnya memang tidak tergantung bukunya. Harusnya Gary Ross bisa membuatnya lebih baik.

Yang ketiga dan keempat adalah Camera dan setting hutan yang buruk. Camera movement saat survival games berlangsung menurut gue tidak "enak" dilihat. Terlalu banyak pergerakan yang tidak perlu seperti Pan, blur, etc. Hutannya juga terlalu standard. Yaah kalau masalah setting hutan memang subyektif-nya gue aja yang mengharapkan hutan yang lebih "garang" dan buruk.

Oke...bagaimana struktur filmnya? Gue yang awam ini sangat kesulitan begitu mencoba menguraikan film itu dalam bentuk struktur formula sequencing yang gue tau dan gue berasa kehilangan plot point 2. Tapi dari semua formula standard yang gue tau, gue menemukan yang cocok yaitu formula "Hero's Journey" -nya Joseph Campbell.

Anyway...dari keseluruhan pendapat suka dan tidak sukanya gue pada film itu, gue cukup menikmati filmnya. Kalau dari 5 stars rating, gue memberikan 3.5 lah. Masih terbilang suka dan gue menantikan film dari babak trilogi berikutnya, Catching Fire dan Mockingjay. Sementara ini...gue akan mencoba menikmati bukunya.

Image Source: http://en.wikipedia.org/wiki/The_Hunger_Games_(film)
http://en.wikipedia.org/wiki/Monomyth
http://insidemymoviemind.wordpress.com/
http://www.goodreads.com/book/show/2767052-the-hunger-games

Kamis, 15 Maret 2012

The Grey

Sebelum meneruskan membaca blog ini, gue peringatkan blog ini mengandung Spoiler.

Film The Grey bercerita tentang 7 orang pekerja tambang minyak di Alaska yang berhasil selamat dari kecelakaan pesawat yang mereka tumpangi dan berusaha bertahan hidup dari ganasnya padang salju Alaska serta ancaman sekelompok serigala buas yang berusaha membunuh 7 orang tersebut satu persatu yang merasa terganggu oleh keberadaan mereka. Ottway (Liam Neeson), yang bekerja di tambang minyak tersebut sebagai penjaga area dari serbuan serigala, mengambil kendali dan memimpin kelompok tersebut untuk bertahan hidup dengan segala pengetahuan dan pengalamannya tentang serigala. Sepanjang film selalu diisi dengan ketegangan dan kita yang menonton akan selalu dibuat tetap "siaga" karena ketegangannya selalu datang tiba-tiba (kalo kata temen gue, lelah nontonnya hahaha).

Banyak orang yang menonton film ini secara tidak sengaja merasa tertipu saat mereka mengharapkan akan menyaksikan sebuah film action ternyata yang mereka dapatkan adalah drama suspense. Kesalahpahaman ini diakibatkan karena false advertisement dari trailer The Grey yang menampilkan cuplikan-cuplikan action Liam Neeson melawan serigala. Hingga tidak sedikit dari penonton yang memberikan komentar tidak suka atau buruk terhadap film itu.

Bagi gue, film ini cukup "nyentrik" hingga banyak mengakibatkan begitu banyak kesan yang sangat berbeda-beda dari orang-orang yang menontonnya. Seperti yang udah gue bilang di atas kalau banyak yang tidak suka. Akan tetapi di satu sisi ada beberapa teman gue ada yang segitu amat sukanya dengan film ini hingga dia bilang ini adalah salah satu film terbaiknya sejauh ini di tahun 2012. Tolak belakang banget ya? Oke...kurang lebih seperti ini gambarannya...buat orang yang menikmati film dari sekedar apa yang dia lihat saja akan merasa film The Grey adalah film Final Destination dengan versi yang berbeda. Sekelompok orang berhasil lolos dari maut kecelakaan pesawat tetapi ujung-ujungnya mati satu persatu karena hal yang lain. Tetapi beberapa orang bisa mendapatkan message yang amat berbeda dari film itu. Ada temen gue juga yang berkata kalau film itu bercerita tentang "perjuangan hidup". Bagaimana dengan gue?

Buat gue, film yang setelah gue tonton "meninggalkan jejak" atau "membekas" di gue adalah film yang luar biasa. Film ini awalnya terasa biasa tetapi setelah selesai menonton, gue merasa takjub akan ceritanya dan skenarionya. Bukan karena action yang spektakuler atau karakterisasi yang hebat. Tidak...tidak...film ini bahkan hanya memberikan sedikit ruang bagi karakterisasi. Tetapi bagian terbaiknya adalah bagaimana premis cerita ini serta "needs" dari protagonisnya tersembunyi dengan amat sangat baik hingga seusai menonton, gue baru sadar bahwa script ini menipu serta memanipulasi pikiran penonton dengan sangat baik. Banyak penonton film ini yang yakin bahwa film ini tentang bagaimana kelompok tersebut berusaha menyelamatkan diri, dan akibat misleading cerita itu juga lah yang menyebabkan banyak yang kecewa menontonnya. Tetapi sejak awal film ini memang bukan ingin menceritakan tentang penyelamatan atau bertahan hidup. Film ini bercerita tentang KEMATIAN (setidaknya itu menurut penterjemahan pribadi gue). Sejak awal film ini sudah menyuguhkan tentang "merengkuh kematian" dari mulai adegan Ottway 'melepaskan" nyawa serigala yang ia tembak dan itulah keindahan skenarionya. Hingga sepanjang skenario berjalan, "kematian" selalu disisipkan dengan amat halus.

Ini cerita tentang hidup dengan berjuang semaksimal mungkin, dan mati dengan segenap jiwa raga. Live and die on this day....live and die on this day. What a Great movie.