Kamis, 15 Maret 2012

The Grey

Sebelum meneruskan membaca blog ini, gue peringatkan blog ini mengandung Spoiler.

Film The Grey bercerita tentang 7 orang pekerja tambang minyak di Alaska yang berhasil selamat dari kecelakaan pesawat yang mereka tumpangi dan berusaha bertahan hidup dari ganasnya padang salju Alaska serta ancaman sekelompok serigala buas yang berusaha membunuh 7 orang tersebut satu persatu yang merasa terganggu oleh keberadaan mereka. Ottway (Liam Neeson), yang bekerja di tambang minyak tersebut sebagai penjaga area dari serbuan serigala, mengambil kendali dan memimpin kelompok tersebut untuk bertahan hidup dengan segala pengetahuan dan pengalamannya tentang serigala. Sepanjang film selalu diisi dengan ketegangan dan kita yang menonton akan selalu dibuat tetap "siaga" karena ketegangannya selalu datang tiba-tiba (kalo kata temen gue, lelah nontonnya hahaha).

Banyak orang yang menonton film ini secara tidak sengaja merasa tertipu saat mereka mengharapkan akan menyaksikan sebuah film action ternyata yang mereka dapatkan adalah drama suspense. Kesalahpahaman ini diakibatkan karena false advertisement dari trailer The Grey yang menampilkan cuplikan-cuplikan action Liam Neeson melawan serigala. Hingga tidak sedikit dari penonton yang memberikan komentar tidak suka atau buruk terhadap film itu.

Bagi gue, film ini cukup "nyentrik" hingga banyak mengakibatkan begitu banyak kesan yang sangat berbeda-beda dari orang-orang yang menontonnya. Seperti yang udah gue bilang di atas kalau banyak yang tidak suka. Akan tetapi di satu sisi ada beberapa teman gue ada yang segitu amat sukanya dengan film ini hingga dia bilang ini adalah salah satu film terbaiknya sejauh ini di tahun 2012. Tolak belakang banget ya? Oke...kurang lebih seperti ini gambarannya...buat orang yang menikmati film dari sekedar apa yang dia lihat saja akan merasa film The Grey adalah film Final Destination dengan versi yang berbeda. Sekelompok orang berhasil lolos dari maut kecelakaan pesawat tetapi ujung-ujungnya mati satu persatu karena hal yang lain. Tetapi beberapa orang bisa mendapatkan message yang amat berbeda dari film itu. Ada temen gue juga yang berkata kalau film itu bercerita tentang "perjuangan hidup". Bagaimana dengan gue?

Buat gue, film yang setelah gue tonton "meninggalkan jejak" atau "membekas" di gue adalah film yang luar biasa. Film ini awalnya terasa biasa tetapi setelah selesai menonton, gue merasa takjub akan ceritanya dan skenarionya. Bukan karena action yang spektakuler atau karakterisasi yang hebat. Tidak...tidak...film ini bahkan hanya memberikan sedikit ruang bagi karakterisasi. Tetapi bagian terbaiknya adalah bagaimana premis cerita ini serta "needs" dari protagonisnya tersembunyi dengan amat sangat baik hingga seusai menonton, gue baru sadar bahwa script ini menipu serta memanipulasi pikiran penonton dengan sangat baik. Banyak penonton film ini yang yakin bahwa film ini tentang bagaimana kelompok tersebut berusaha menyelamatkan diri, dan akibat misleading cerita itu juga lah yang menyebabkan banyak yang kecewa menontonnya. Tetapi sejak awal film ini memang bukan ingin menceritakan tentang penyelamatan atau bertahan hidup. Film ini bercerita tentang KEMATIAN (setidaknya itu menurut penterjemahan pribadi gue). Sejak awal film ini sudah menyuguhkan tentang "merengkuh kematian" dari mulai adegan Ottway 'melepaskan" nyawa serigala yang ia tembak dan itulah keindahan skenarionya. Hingga sepanjang skenario berjalan, "kematian" selalu disisipkan dengan amat halus.

Ini cerita tentang hidup dengan berjuang semaksimal mungkin, dan mati dengan segenap jiwa raga. Live and die on this day....live and die on this day. What a Great movie.

Rabu, 14 Maret 2012

The Artist

Kemarin seusai bekerja, gue bersama teman-teman gue langsung menuju EX sambil berkejar-kejaran dengan waktu. Pasalnya karena kemarin itu adalah hari terakhir film The Artist dan The Grey main di bioskop Jakarta. Untungnya karena kantor gue dekat dengan Sarinah membuat gue bisa menempuh jarak kantor dan EX hanya sekitar 30 menit. Rencananya pukul 19.15 gue nonton The Artist dan 21.25 langsung lanjut nonton The Grey. Dan di postingan blog gue yang ini, ijinkan gue untuk berkomentar sedikit mengenai The Artist dari sudut pandang awam. Gue juga akan bercerita sedikit tentang The Grey di postingan berikutnya.

The Artist mengembalikan makna film kepada bentuk originalnya, yaitu dimana film merupakan visual language dan bukan dialog. Banyak penonton yang melihat dari sudut pandang salah. Mereka berkomentar bahwa film itu dialognya hebat banget, film ini dialognya smart dan kena banget. Silahkan nonton The Artist dan anda tahu bahwa dialog tidak memberikan makna apa-apa melainkan pemanis bagi sebuah film. Seluruh makna, maksud, informasi, dan apapun disajikan dalam bahasa gambar yang dikemas dengan Briliant oleh Michael Hazanavius (Director & writer) dan di eksekusi dengan sangat sempurna oleh Jean Dujardin.

Menurut gue, struktur / formula yang digunakan Michael Hazanavius cukup simple. Tidak menggunakan formula sequence yang rumit. Dari hitungan saya sepertinya dia menggunakan 7 sequence yang mungkin masih bisa dipecah jadi 8 sequence dengan formula sequence yang cukup umum digunakan oleh Hollywood. Yang menarik adalah Michael Hazanavius meletakkan sub plot langsung di depan. Hubungan George Valentine dengan Peppy Miller sudah dimulai dari Act 1. Bisa jadi gue yang merumuskan premisenya dengan berbeda atau memang trik dari Michael. Apapun itu yang pasti hal tersebut menyempurnakan script The Artist. Belum lagi jarak dari awal film hingga plot point 1 nya amat jauh. Membuat gue juga jadi tertarik akan alasan dibalik keputusan Michael untuk membuatnya seperti itu. Yang menarik lagi, Michael menguasai trik-trik writing dengan amat sangat baik hingga dia bisa menggunakan semua Movie device yang dia punya jadi bagian-bagian yang sangat penting di film itu mulai dari tarian bersama pada act 1, kondisi Peppy yang hampir dikeluarkan oleh Al Zimmer (John Goodman) lalu dibela oleh George Valentine. Semuanya ditulis dengan sangat baik. Topik yang dipilihnya juga brilliant. Suatu topik yang hanya bisa dibawakan jauh setelah masa-masa film bisu berakhir dan film suara dipuncak kejayaannya.



Secara keseluruhan gue menilai film tersebut ditulis dan di direct dengan sempurna. Michael sukses mengganti suara dengan gambar-gambar dan kita tidak sedikitpun kehilangan apapun yang selayaknya kita menonton film dengan suara. Semua emosi yang selayaknya harus kita dapatkan tidak ada satupun yang luput. Semua yang menonton pasti setuju bahwa sedih dan ceria tersampaikan tanpa cacat. Membuat reaksi gue setelah credit tittle muncul hanya bisa applause sekencang-kencangnya di studio yang hanya berjumlah sedikit penonton itu.

Sabtu, 03 Maret 2012

Talent...real or superstition?

Gue akan mulai dengan bakat itu apa seh? Buat beberapa orang yang udah gue tanya mereka mengatakan secara garis besar bahwa Bakat itu semacam benih istimewa yang udah ditanam dari dulu yang membuat orang itu sudah jago dari sananya. Dulu gue juga percaya dengan hal itu kalau beberapa orang dilahirkan di dunia ini dengan keistimewaan yang diberikan sehingga orang itu menjadi amat sangat hebat untuk bidang tertentu. Do you really believe that? Hanya beberapa orang yang mendapat hak istimewa itu? Lalu bagaimana dengan sisa orang-orang yang lainnya? Yang hidup biasa, tidak menonjol, dan tidak bisa menjadi super hebat dalam sport, musik, seni, sains, dan apapun itu lah. Hanya untuk orang-orang tertentu? Tapi kita tahu kan kalo Tuhan itu Maha Adil dari yang paling Adil, bukan?

Mulai sejak gue masih kuliah, gue mulai berpikir...apa sih bakat itu dengan tetap berpegang teguh bahwa Tuhan itu Adil. Dia ciptakan semuanya unik dan istimewa. Lalu gue mulai menelusuri cerita dibalik kesuksesan orang-orang yang dibilang "berbakat" oleh dunia. Dan gue menemukan kenyataannya bahwa mereka yang sukses itu tidak seperti yang orang-orang bilang soal bakat yaitu, "kalo elo berbakat pasti elo lakuin hal tersebut dengan lebih mudah dari orang biasa lainnya. Yang orang lain lakukan hal yang sama dapat maju satu langkah tapi untuk yang berbakat bisa langsung 2 sampe 3 langkah" melainkan yang gue temukan adalah mereka-mereka yang berbakat itu JUSTRU berjuang JAUH lebih keras, JAUH lebih sering, JAUH lebih lama, dan JAUH lebih banyak dari pada orang lainnya. Dan kenapa mereka bisa begitu? Karena mereka TERAMAT SUKA dengan yang mereka kerjakan. Coba tanya pada mereka yang sukses itu...apakah ada diantara mereka yang justru benci atau cuma suka setengah hati pada bidangnya mereka? Dari situ gue konsep bakat buat gue mulai memudar. Yang ada hanyalah suka.

Tapi ternyata tidak sesimple itu. Gue mulai berpikir bagaimana dengan penyanyi yang udah dari sananya dapat suara yang luar biasa dari pada orang lain? Jujur mengenai konsep ini bakat ini pun masih selalu berevolusi didiri gue sendiri. Dan gue mulai berasumsi bahwa suara yang bagus itupun tidak jadi begitu saja tanpa pernah terasah lebih dulu. Let say...Mariah Carey yang katanya memiliki suara sampai 7 oktaf. Apakah mungkin dia akan tetap mendapatkan suaranya yang sekarang itu apabila dia lahir di Indonesia, dari kecil mulai kenal rokok, minuman keras, dan konsumsi lainnya? Memang nggak bakalan ada yang tau. Tapi hal itu menurut gue masuk akal dan pasti berpengaruh. Atau misalnya seorang Whitney Houston, apakah dia akan menjadi penyanyi terkenal apabila dia lahir di keluarga politikus yang dari kecil udah di jejali politik tanpa pernah mengenal menyanyi? Kalau tidak pernah mengenal, apakah dia bisa suka? Dan kalau tidak suka, apakah dia bisa berhasil menjadi penyanyi terkenal?

Dari situ konsep gue mulai berevolusi lebih lanjut lagi. Bakat tidak cuma suka melainkan ada proses kehidupan di dalamnya seperti pilihan hidup yang mereka ambil, karakter orang yang kuat, pengaruh keluarga, dan banyak unsur chemistry lainnya yang saling berpengaruh satu sama lain. Mungkin bisa dibilang mulai dari keluarga dimana orang tersebut tumbuh dan membentuk pola pikirnya hingga menjadi orang yang bisa berhasil dibidang yang dia suka, lalu dicampur dengan sifat orang itu dan sebagainya.

Jadi...apakah bakat itu ada atau tidak? Buat gue tidak ada. Buat gue yang ada hanyalah proses menemukan dan mencampurkan macam-macam unsur-unsur kimiawi tersebut dengan tepat lalu dicampur dengan rasa suka dan usaha dan pengorbanan yang keras hingga akhirnya berhasil. Ini tidak gampang karena harus dimulai dengan kenali sifat-sifat kita dulu. Lalu sifat kita cocoknya apa? Lalu apa sih yang gue suka. Sifat jelek gue yang mana yang harus gue rubah supaya bisa fit dengan hal yang gue suka itu. Gue pun juga sedang berusaha mulai dari yang sebelumnya tidak pernah mencari menjadi mulai mencari. Salah satunya adalah Blog ini sebagai bagian dari pencarian passion gue.

So..mari kita bersama-sama berusaha menjadi orang-orang yang istimewa...karena Tuhan itu Adil.

Kamis, 01 Maret 2012

Finding Nemo, Forester, and Louis

Ada yang tau apa itu Finding Nemo dan Finding Forester? Yup...itu film. Menginspirasikan nama blog gue karena memang gue teramat suka dengan film. Tapi film Finding Forester memberikan makna sedikit lebih mendalam lagi bagi makna nama Blog gue. Ada yang sudah tahu atau sudah pernah nonton film tentang apakah itu? Film itu mengambil tema tentang......penulis.


So...disinilah gue...berhadapan dengan Macbook hitam klasik gue ini, mencoba menderetkan kata demi kata, menyampaikan segala ide kusut yang HARUS tumpah dari otak gue karena saking mumetnya dan nggak bisa kebendung lagi.


Mengawali proses Blog gue dengan terbalik, yaitu melalui twitter, gue menemukan diri gue menikmati menulis untuk menyampaikan ide-ide. Ide-ide yang biasanya dan tanpa sengaja, sedikit berwarna kontroversial dan miring. Sampai akhirnya gue mulai merasa 140 character nggak cukup dan nggak memuaskan. I wanna say something more. And finally...after all these years..I decide to start writing a blog. Nggak cuma ide-ide aneh gue aja yang bakal tumpah disini, pastinya bakalan sering obrolan film ikutan tertuang karena...yaaa mau gimana lagi. Gue sangat suka film. Film dan menulis sepertinya akan menyertai perjalanan hidup gue paling tidak sampai beberapa waktu ke depan. Who knows...mungkin bisa jadi selamanya. Dan Blog ini adalah salah satu jalan untuk mempertajam passion baru gue ini..writing.


Sekali lagi ini bukan tentang seorang bapak mencari anaknya, Louis, yang menghilang karena ditangkap oleh penyelam dan dibawa ke akuarium seorang dokter gigi di Sydney. Bukan juga tentang cerita seorang anak kulit hitam dari daerah bronx America yang nyaris jenius sastra serta berprestasi dalam olah raga basket............Finding Nemo dan Finding Forester. Finding Louis........Ini tentang gue mencari diri gue sendiri.


PS:  dengan ini......................kita sudah resmi berkenalan :)