Rabu, 14 Maret 2012

The Artist

Kemarin seusai bekerja, gue bersama teman-teman gue langsung menuju EX sambil berkejar-kejaran dengan waktu. Pasalnya karena kemarin itu adalah hari terakhir film The Artist dan The Grey main di bioskop Jakarta. Untungnya karena kantor gue dekat dengan Sarinah membuat gue bisa menempuh jarak kantor dan EX hanya sekitar 30 menit. Rencananya pukul 19.15 gue nonton The Artist dan 21.25 langsung lanjut nonton The Grey. Dan di postingan blog gue yang ini, ijinkan gue untuk berkomentar sedikit mengenai The Artist dari sudut pandang awam. Gue juga akan bercerita sedikit tentang The Grey di postingan berikutnya.

The Artist mengembalikan makna film kepada bentuk originalnya, yaitu dimana film merupakan visual language dan bukan dialog. Banyak penonton yang melihat dari sudut pandang salah. Mereka berkomentar bahwa film itu dialognya hebat banget, film ini dialognya smart dan kena banget. Silahkan nonton The Artist dan anda tahu bahwa dialog tidak memberikan makna apa-apa melainkan pemanis bagi sebuah film. Seluruh makna, maksud, informasi, dan apapun disajikan dalam bahasa gambar yang dikemas dengan Briliant oleh Michael Hazanavius (Director & writer) dan di eksekusi dengan sangat sempurna oleh Jean Dujardin.

Menurut gue, struktur / formula yang digunakan Michael Hazanavius cukup simple. Tidak menggunakan formula sequence yang rumit. Dari hitungan saya sepertinya dia menggunakan 7 sequence yang mungkin masih bisa dipecah jadi 8 sequence dengan formula sequence yang cukup umum digunakan oleh Hollywood. Yang menarik adalah Michael Hazanavius meletakkan sub plot langsung di depan. Hubungan George Valentine dengan Peppy Miller sudah dimulai dari Act 1. Bisa jadi gue yang merumuskan premisenya dengan berbeda atau memang trik dari Michael. Apapun itu yang pasti hal tersebut menyempurnakan script The Artist. Belum lagi jarak dari awal film hingga plot point 1 nya amat jauh. Membuat gue juga jadi tertarik akan alasan dibalik keputusan Michael untuk membuatnya seperti itu. Yang menarik lagi, Michael menguasai trik-trik writing dengan amat sangat baik hingga dia bisa menggunakan semua Movie device yang dia punya jadi bagian-bagian yang sangat penting di film itu mulai dari tarian bersama pada act 1, kondisi Peppy yang hampir dikeluarkan oleh Al Zimmer (John Goodman) lalu dibela oleh George Valentine. Semuanya ditulis dengan sangat baik. Topik yang dipilihnya juga brilliant. Suatu topik yang hanya bisa dibawakan jauh setelah masa-masa film bisu berakhir dan film suara dipuncak kejayaannya.



Secara keseluruhan gue menilai film tersebut ditulis dan di direct dengan sempurna. Michael sukses mengganti suara dengan gambar-gambar dan kita tidak sedikitpun kehilangan apapun yang selayaknya kita menonton film dengan suara. Semua emosi yang selayaknya harus kita dapatkan tidak ada satupun yang luput. Semua yang menonton pasti setuju bahwa sedih dan ceria tersampaikan tanpa cacat. Membuat reaksi gue setelah credit tittle muncul hanya bisa applause sekencang-kencangnya di studio yang hanya berjumlah sedikit penonton itu.

1 komentar: